Tapi saya ingin mengerti apa yang terjadi di negeri saya dan dunia,” akunya

oleh -43 Dilihat
oleh
Tapi saya ingin mengerti apa yang terjadi di negeri saya dan dunia,” akunya

Kebumen | Tapi saya ingin mengerti apa yang terjadi di negeri saya dan dunia," akunya. Tokoh pendiri bangsa tersebut kuliah di Belanda pada tahun 1921-1932.

Keterangan yang tercatat menyebut Menurut pengakuannya, awalnya dia tidak tertarik belajar ekonomi.

Data lain dalam laporan menunjukkan Selama berada di negeri penjajah Indonesia, ia bergabung dan terlibat aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia, hingga dipilih menjadi ketua perhimpunan pada 1926-1930. Dikutip dari laman media keuangan Kementerian Keuangan RI, Soemitro yang lahir di Kebumen pada 29 Mei 1917, berangkat ke Belanda menempuh studi ekonomi di Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam pada 1935. Dua tahun kemudian, ia memperdalam filsafat dan sejarah di Universitas Paris atau lebih dikenal sebagai Collège de Sorbonne (La Sorbonne). Sekembalinya ke Belanda, Sumitro menulis disertasi bertajuk Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi) di tengah invasi Nazi Jerman pada 1940. Dengan penuh perjuangan, ia menuntaskan riset itu dan meraih gelar doktor ekonomi pada 1943 – di usia 26 tahun.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Kepintaran Wakil Presiden Indonesia pertama Mohammad Hatta diakui universitas top dunia di Belanda. Bahkan, salinan ijazahnya saat lulus dari Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda dipajang sampai sekarang. Dilansir dari situs Erasmus Magazine, ijazah Wapres yang akrab disapa Bung Hatta itu dipamerkan di aula sebuah bangunan dengan nama "Hatta Building". Bangunan itu dinamai demikian untuk menghormati perjuangan Bung Hatta atas kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta dahulu merupakan mahasiswa EUR, yang sebelumnya bernama Nederlandse Handelshogeschool.

Namun, bukan hanya Bung Hatta yang lulus dari perguruan tinggi tersebut. Tercatat Soemitro Djojohadikusumo pun lulusan universitas tersebut. Dia adalah ayah dari Presiden Prabowo Subianto. Di sana, ia berjumpa dengan atmosfer pemikiran Eropa yang sedang berubah cepat oleh krisis ekonomi dan ketegangan perang. Disertasinya kelak menjadi bacaan penting di masa pascakemerdekaan, karena menyoroti sistem kredit rakyat dan dinamika ekonomi di tengah krisis. Salah seorang dosen Soemitro adalah Profesor Jan Tinbergen, peraih Nobel Ekonomi pertama di dunia. Dari Tinbergen, Soemitro belajar tentang pentingnya kebijakan ekonomi yang terukur – satu instrumen kebijakan untuk satu tujuan. Prinsip inilah yang kelak menjadi dasar berpikirnya dalam membangun kebijakan ekonomi Indonesia. Dalam buku "Pelaku Berkisah, Ekonomi Indonesia 1950-an Sampai 1990-an" Soemitro menjelaskan mengapa belajar di sana. Dengan pengorbanan yang besar, orang tua saya mengirimkan saya ke Rotterdam untuk belajar di Sekolah Ilmu Ekonomi Belanda (sekarang Erasmus University)," katanya.