Di Balik Pentas Kebun Hantu, Roy Julian Menyiapkan Lakon yang Belum Ditampilkan

oleh -11 Dilihat
oleh
Di Balik Pentas Kebun Hantu, Roy Julian Menyiapkan Lakon yang Belum Ditampilkan

Jakarta | Sutradara sekaligus pemain teater Roy Julian mementaskan Kebun Hantu di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pertunjukan tersebut digelar pada Senin dan Selasa malam, 13 Oktober, sebagai bagian dari program pementasan yang mempertemukan karya teater dengan penonton di salah satu ruang seni penting Jakarta.

Pementasan itu tidak disiapkan dalam waktu singkat. Roy bersama kelompok Kantor Teater mengembangkan Kebun Hantu selama sepuluh bulan, sejak gagasan awal, proses penulisan, latihan, hingga pematangan bentuk pertunjukan. Rentang persiapan tersebut menunjukkan kerja panjang di balik panggung, termasuk upaya menyusun permainan aktor, membangun suasana, serta menemukan cara penyampaian yang sesuai dengan gagasan lakon.

Kebun Hantu dipilih sebagai karya yang disajikan Kantor Teater untuk Kanal Teater Dewan Kesenian Jakarta. Pemilihan itu menempatkan pementasan Roy dalam rangkaian upaya menghadirkan karya-karya teater yang memiliki proses kreatif kuat sekaligus membuka ruang pertemuan seniman dan publik. Bagi Roy, panggung tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan hasil pengolahan karya yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Namun, pementasan ini belum sepenuhnya menggambarkan seluruh gagasan yang sedang dikerjakan Roy. Di balik karya yang telah tampil di hadapan penonton, ia masih menyimpan satu lakon lain yang belum ditampilkan. Karya tersebut menjadi bagian dari proses kreatif yang masih berlanjut dan memperlihatkan bahwa perjalanan Roy di dunia teater tidak berhenti pada satu pertunjukan. Karena itu, Kebun Hantu bukan hanya menandai hasil dari persiapan sepuluh bulan, melainkan juga membuka petunjuk tentang karya berikutnya yang masih menunggu waktu untuk hadir di panggung.

Pada awal masa persiapan, Roy Julian tidak hanya menyiapkan satu bahan pementasan. Ia mengembangkan dua naskah pendek, yakni Kebun Hantu serta Kaktus dan Kuping Gajah. Keduanya dirancang untuk hadir dalam rangkaian Kanal Teater DKJ, dengan pendekatan latihan yang menempatkan proses penciptaan sama pentingnya dengan hasil pertunjukan. Naskah Kebun Hantu kemudian menjadi lakon yang dipentaskan, sedangkan naskah kedua harus ditunda. Penundaan tersebut membuat Kaktus dan Kuping Gajah tetap berada dalam tahap pengembangan, meskipun gagasan dan arah artistiknya telah disiapkan sejak awal.

Rencana pementasan Kaktus dan Kuping Gajah berubah setelah lima dari sebelas pemain mengundurkan diri. Mereka menyatakan tidak kuat mengikuti rangkaian latihan yang diperlukan. Berkurangnya hampir separuh jumlah pemain tentu memengaruhi kesiapan produksi, tetapi persoalannya tidak berhenti pada hitungan kuantitatif. Bagi Roy, setiap pemain telah menjadi bagian dari proses pembentukan naskah dan atmosfer pertunjukan. Latihan yang berlangsung sebelum pengunduran diri itu turut membangun hubungan antarpelakon, ritme adegan, serta cara tubuh merespons ruang dan situasi dramatik.

Pertimbangan tersebut berkaitan langsung dengan konsep Kanal Teater DKJ yang bertumpu pada tema arsip tubuh. Dalam kerangka ini, tubuh bukan sekadar alat untuk menjalankan peran, melainkan tempat tersimpan ingatan, pengalaman, kebiasaan, dan respons personal para pelakon. Pengalaman asli itu kemudian diolah menjadi materi artistik yang khas bagi pertunjukan. Karena itu, peran yang ditinggalkan tidak dapat begitu saja digantikan oleh pemain baru. Penggantian tersebut berpotensi mengubah ingatan yang menjadi dasar adegan, sekaligus menggeser rasa, tempo, dan hubungan emosional dalam keseluruhan lakon. Menunda pementasan menjadi pilihan untuk menjaga keutuhan proses, bukan tanda bahwa naskah tersebut dihentikan. Roy masih memiliki ruang untuk mengembangkan karya itu ketika komposisi pemain dan kondisi latihan kembali memungkinkan.

Dalam menulis Kebun Hantu, Roy Julian menempatkan tubuh aktor sebagai sumber pengetahuan artistik. Tubuh tidak diperlakukan semata-mata sebagai alat untuk menyampaikan dialog, membentuk karakter, atau menggerakkan alur cerita. Di dalamnya tersimpan ingatan, kebiasaan, ketegangan, dorongan, serta cara seseorang berhubungan dengan ruang dan orang lain. Berbagai pengalaman itu menjadi bahan awal untuk menemukan bentuk pertunjukan, bahkan sebelum gagasan tentang tokoh atau cerita dirumuskan secara utuh.

Pendekatan tersebut membuat proses penciptaan tidak berjalan dari naskah menuju pelaksanaan secara satu arah. Gerak, suara, jeda, posisi, dan perubahan energi para aktor dapat membuka kemungkinan artistik yang sebelumnya belum direncanakan. Tubuh menghadirkan logikanya sendiri melalui respons terhadap ruang, benda, cahaya, suara, dan tubuh aktor lain. Dari sana, pertunjukan dapat berkembang melalui pengamatan, pengulangan, penyimpangan, serta negosiasi rancangan Roy dan temuan yang muncul selama proses latihan.

Pengalaman tubuh dalam Kebun Hantu juga tidak selalu diterjemahkan menjadi kritik sosial atau pernyataan tertentu. Pengalaman itu tidak harus dijelaskan melalui hubungan sebab-akibat yang jelas. Sebuah gestur, misalnya, dapat hadir karena memiliki kualitas ritmis, daya tarik visual, atau ketegangan tertentu, bukan karena harus mewakili peristiwa masa lalu seorang tokoh. Dengan demikian, pertunjukan memberi ruang bagi pengalaman untuk hadir sebagai material yang terbuka, tanpa segera dipaksa menjadi penjelasan.

Konsekuensinya, penonton tidak diarahkan menuju satu makna yang disepakati. Bentuk-bentuk yang lahir dari tubuh para aktor dapat memunculkan tafsir yang beragam, termasuk kesan yang saling bertentangan. Roy membangun pertunjukan melalui kemungkinan, bukan melalui kepastian tunggal. Setiap tubuh membawa cara mengetahui yang berbeda, dan perbedaan itu menjadi bagian dari struktur karya. Kebun Hantu kemudian dipahami sebagai ruang penciptaan yang memungkinkan tubuh, bentuk, dan makna terus bernegosiasi di hadapan penonton.

Hubungan Kebun Hantu dan pengalaman manusia modern tampak kuat dalam cara pertunjukan ini memandang media sosial. Layar gawai menghadirkan berbagai peristiwa secara beruntun, tanpa memberi cukup waktu kepada pengguna untuk memahami hubungan di semuanya. Dalam satu rentang waktu yang berdekatan, seseorang dapat menyaksikan kabar bencana alam, melihat pasangan yang sedang berpacaran, kemudian berhadapan dengan berita kriminal seperti begal. Ketiganya muncul dalam aliran informasi yang sama, meskipun tidak memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas.

Menurut Roy Julian, pengalaman semacam itu membentuk kesaksian yang khas bagi pengguna media sosial. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak selalu diproses sebagai pengalaman yang utuh, melainkan menumpuk secara acak di dalam ingatan dan tubuh. Kesedihan, hiburan, kecemasan, serta rasa ingin tahu hadir berdampingan. Perpindahan cepat dari satu kabar ke kabar lain membuat manusia modern terus menerima jejak kejadian, bahkan ketika perhatian mereka telah beralih ke hal berikutnya. Pertunjukan ini menangkap keadaan tersebut sebagai suasana yang tidak stabil, ketika realitas hadir dalam fragmen-fragmen yang sulit disusun menjadi cerita linear.

Dalam kerangka itu, hantu di Kebun Hantu bukan sosok dari dunia lain. Hantu merujuk pada sesuatu yang hadir, atau mungkin telah berlalu, tetapi belum selesai meninggalkan tubuh. Ia dapat berupa peristiwa, kesan, ketakutan, atau pengalaman yang tetap melekat setelah perhatian berpindah. Makna tersebut membuat hantu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: sesuatu yang tidak terlihat secara langsung, tetapi terus memengaruhi cara seseorang merasakan dan mengingat.

Roy juga menegaskan bahwa naskah Kaktus dan Kuping Gajah tidak dibatalkan. Naskah tersebut disimpan untuk dipersiapkan secara lebih matang, dengan rencana pementasan lain pada tahun depan.