Wagub Papua Tengah Minta Konflik Antarkelompok di Mimika Dihentikan

oleh -11 Dilihat
oleh
Wagub Papua Tengah Minta Konflik Antarkelompok di Mimika Dihentikan

Kabupaten Mimika | Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley menyerukan penghentian konflik antarkelompok yang masih terjadi di Kabupaten Mimika. Ia menilai pertikaian sesama warga hanya akan menghambat pembangunan dan memperlambat kemajuan daerah. Seruan tersebut disampaikan di Timika, Senin, dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika. Momentum peringatan itu digunakan untuk mengingatkan seluruh masyarakat bahwa keamanan dan persatuan merupakan dasar penting bagi terciptanya kehidupan daerah yang lebih baik.

Deinas mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan dan tidak lagi terlibat dalam berbagai bentuk pertikaian. Ajakan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat asli Papua yang tinggal di Mimika agar bersama-sama menjaga kedamaian serta mengutamakan kepentingan bersama. Menurut dia, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui komunikasi dan cara-cara yang damai, bukan dengan kekerasan yang dapat menimbulkan korban, kerugian, serta ketidakpastian bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa konflik yang berlangsung di Mimika bukan perang suku, melainkan perang saudara. Karena itu, pertikaian tersebut harus segera dihentikan dan tidak boleh terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Perbedaan latar belakang maupun kelompok semestinya tidak menjadi alasan untuk saling berhadapan. Deinas berpandangan bahwa masyarakat Papua perlu bersatu agar Papua dapat maju dan berkembang. Persatuan dinilai akan memperkuat pelaksanaan pembangunan, menciptakan rasa aman, serta membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Dengan menghentikan konflik, seluruh pihak dapat mengarahkan tenaga dan perhatian pada pembangunan Mimika serta masa depan Papua Tengah.

Konflik antarkelompok warga Dang dan Newegelen di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, berlangsung sejak Oktober 2025. Perselisihan tersebut menimbulkan ketegangan berkepanjangan dan mengganggu kehidupan masyarakat setempat. Pada bulan yang sama, kepolisian telah berupaya mempertemukan kedua pihak melalui mediasi untuk menghentikan bentrokan serta mendorong penyelesaian secara damai. Namun, proses tersebut belum mampu mengakhiri pertikaian secara permanen.

Upaya perdamaian kembali ditempuh melalui mekanisme adat pada 12 Januari 2026. Kedua kelompok menyatakan kesediaan untuk berdamai setelah mengikuti proses yang melibatkan tokoh masyarakat dan pemangku adat. Meski demikian, kesepakatan itu tidak bertahan lama. Pertikaian kembali terjadi setelah proses perdamaian tersebut, sehingga situasi keamanan di sejumlah wilayah Kwamki Narama kembali menjadi perhatian. Berlarutnya konflik juga meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan memperbesar dampak sosial di tingkat kampung.

Kesepakatan damai berikutnya dicapai pada 24 Juni 2026 di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama. Perdamaian itu ditandai dengan ritual adat patah panah dan panah babi, yang menjadi simbol penghentian permusuhan serta pemulihan hubungan kelompok Dang dan Newegelen. Berdasarkan laporan media setempat mengenai prosesi tersebut, konflik yang berlangsung sekitar delapan bulan menyebabkan sedikitnya 17 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Data itu menggambarkan besarnya dampak pertikaian sebelum kedua pihak kembali memilih jalur adat sebagai dasar penyelesaian.

Pada Juli 2026, kepolisian setempat menyatakan bahwa situasi keamanan di Kwamki Narama berangsur kondusif setelah perdamaian kedua kelompok. Aparat tetap memantau kondisi di lapangan dan mendorong masyarakat mempertahankan komitmen damai agar bentrokan tidak kembali berulang.

Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa perbedaan suku, asal daerah, dan latar belakang tidak semestinya menjadi penghalang bagi masyarakat Mimika untuk hidup berdampingan. Menurut dia, seluruh warga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kebersamaan serta membangun daerah secara bersama-sama. Perbedaan yang ada seharusnya dipandang sebagai bagian dari keragaman masyarakat, bukan alasan untuk mempertajam konflik antarkelompok.

Deinas menyampaikan bahwa Mimika merupakan milik seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Karena itu, pembangunan tidak dapat hanya dibebankan kepada kelompok atau pihak tertentu. Pembangunan Mimika perlu dijalankan bersama di bawah kepemimpinan bupati dan wakil bupati Mimika, yang memperoleh mandat dari masyarakat melalui pemilihan. Keduanya dipilih dengan harapan mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi daerah.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, dukungan pembangunan diperlukan dari seluruh unsur yang ada di Mimika. Deinas menyebut keterlibatan TNI-Polri, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), dan pemerintah daerah sebagai bagian penting dalam menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pelaksanaan program pembangunan. Kerja sama antarlembaga dan dukungan masyarakat dibutuhkan agar pemerintahan dapat bekerja secara efektif serta menjawab kebutuhan warga.

Pesan itu juga dikaitkan dengan peringatan tiga dekade Kabupaten Mimika. Momentum tersebut diharapkan dapat memperkuat persatuan masyarakat dari berbagai latar belakang dan mendorong semua pihak mengesampingkan perbedaan yang berpotensi memicu pertikaian. Situasi yang aman dan kondusif akan memberikan ruang bagi pemerintah serta masyarakat untuk menjalankan pembangunan secara berkelanjutan, dengan mengutamakan kepentingan bersama di wilayah Mimika.

Selain menyerukan penghentian konflik antarkelompok di Mimika, Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley juga meminta generasi muda menjauhi minuman keras. Imbauan tersebut disampaikan karena konsumsi alkohol secara berlebihan dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan. Minuman keras dapat menurunkan kesadaran, memicu tindakan berisiko, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan kekerasan. Dalam kondisi tertentu, penyalahgunaan alkohol bahkan dapat menyebabkan kematian.

Deinas mengajak anak muda Mimika mengisi masa depan dengan kegiatan yang positif dan tidak menjadikan minuman keras sebagai bagian dari pergaulan. Menurut dia, perlindungan generasi muda membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, tokoh agama, serta pemerintah. Lingkungan yang sehat diharapkan dapat membantu mencegah konflik sekaligus mengurangi berbagai persoalan sosial yang sering berkaitan dengan penyalahgunaan alkohol.

Ia juga mengimbau generasi muda menghindari perilaku seksual berisiko sebagai bagian dari upaya mencegah penularan HIV/AIDS. Deinas menyatakan bahwa penyakit tersebut terdapat di hampir setiap kabupaten di wilayah Papua Tengah. Karena itu, kesadaran untuk menjaga kesehatan, memahami cara penularan, dan menjalani pemeriksaan secara berkala perlu terus ditingkatkan, terutama di kalangan remaja dan orang dewasa muda.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menunjukkan, sebanyak 199 kasus baru HIV/AIDS ditemukan melalui pemeriksaan masyarakat sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 134 kasus berada pada kelompok usia 15-34 tahun. Sepanjang 2025, tercatat 489 kasus baru dari 59.737 orang yang menjalani pemeriksaan. Data ini memperlihatkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini secara berkelanjutan.

Dalam momentum HUT ke-30 Mimika, Deinas berharap seluruh pihak semakin serius melindungi generasi muda dari persoalan sosial dan kesehatan. Peringatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga mendorong komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung masa depan anak-anak Mimika.