Galeri Prajnaparamita Dibuka di Jakarta, Saksikan Keistimewaan “Mona Lisa dari Jawa”

oleh -21 Dilihat
oleh
Galeri Prajnaparamita Dibuka di Jakarta, Saksikan Keistimewaan “Mona Lisa dari Jawa”

Jakarta | Museum Nasional Indonesia meresmikan Galeri Prajnaparamita di Jakarta sebagai ruang khusus untuk menampilkan salah satu arca paling penting dalam warisan seni dan sejarah Nusantara. Galeri ini menghadirkan arca Prajnaparamita, peninggalan Kerajaan Singasari dari abad ke-13, yang selama ini dikenal luas dengan julukan “Mona Lisa dari Jawa”. Kehadiran galeri tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengamati karya bersejarah itu secara lebih dekat dalam lingkungan museum.

Arca Prajnaparamita dapat diamati oleh pengunjung di Museum Nasional Indonesia pada Rabu, 14 Oktober 2026. Penempatan arca dalam galeri khusus menandai perhatian terhadap nilai sejarah, artistik, dan budaya yang melekat pada peninggalan tersebut. Sebagai karya dari masa Singasari, arca ini menjadi bagian penting dari pemahaman mengenai perkembangan seni pahat dan tradisi keagamaan di Jawa pada abad ke-13.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan arca tersebut sebagai galeri khusus sehari sebelumnya. Peresmian itu menegaskan posisi Prajnaparamita sebagai peninggalan yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam koleksi kebudayaan Indonesia. Julukan “Mona Lisa dari Jawa” mencerminkan daya tarik arca tersebut, terutama pada penggambaran sosoknya yang dikenal anggun dan penuh ketenangan.

Dengan dibukanya Galeri Prajnaparamita, pengunjung Museum Nasional Indonesia dapat menyaksikan secara langsung peninggalan Singasari yang berasal dari berabad-abad lalu. Kehadiran galeri ini juga memperkenalkan kembali arti penting pelestarian warisan budaya kepada publik melalui pengalaman melihat arca dalam ruang pamer yang didedikasikan secara khusus. Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan salah satu karya monumental dari sejarah Jawa, Rabu, 14 Oktober 2026 menjadi kesempatan untuk mengamati “Mona Lisa dari Jawa” di Jakarta.

Julukan “Mona Lisa dari Jawa” merujuk pada arca Prajnaparamita yang menampilkan sosok perempuan dengan wajah tenang, anggun, dan memiliki ekspresi yang sulit dibaca secara sepintas. Kesan tersebut mengingatkan banyak orang pada figur perempuan dalam lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci. Dalam karya yang dipamerkan di Museum Louvre, Paris, Prancis, Mona Lisa dikenal melalui senyum samar dan tatapan yang menciptakan kesan misterius. Arca Prajnaparamita menghadirkan daya tarik serupa melalui raut wajah yang lembut, sikap tubuh yang hening, serta penggambaran kecantikan yang tidak berlebihan.

Perbandingan itu tidak berarti kedua karya memiliki bentuk, medium, atau latar budaya yang sama. Mona Lisa merupakan lukisan dua dimensi dari tradisi Renaisans, sedangkan Prajnaparamita adalah arca tiga dimensi yang berkaitan dengan perkembangan seni dan keagamaan di Jawa pada masa Hindu-Buddha. Pengunjung dapat mengamati sosok arca dari berbagai arah, termasuk detail mahkota, perhiasan, posisi tangan, dan ekspresi wajahnya. Unsur-unsur tersebut membentuk pengalaman visual yang berbeda dari ketika seseorang menikmati lukisan di permukaan bidang.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Prajnaparamita memiliki keunggulan karena merupakan karya tiga dimensi. Ia juga menyebut arca tersebut dibuat sekitar 200–300 tahun lebih awal daripada Mona Lisa. Penilaian itu menempatkan Prajnaparamita sebagai karya penting yang menunjukkan tingginya kemampuan artistik pembuatnya pada masa lampau, tanpa harus menghapus keistimewaan lukisan Leonardo da Vinci.

Karena itu, sebutan tersebut berfungsi sebagai jembatan bagi masyarakat untuk mengenali arca Jawa melalui perbandingan yang lebih akrab secara global. Julukan itu menyoroti ketenangan, keanggunan, dan daya pikat sosok perempuan yang sama-sama menjadi pusat perhatian, sekaligus mengingatkan bahwa Prajnaparamita memiliki karakter tersendiri. Nilai arca tidak hanya terletak pada kemiripannya dengan Mona Lisa, tetapi juga pada sejarah, konteks kebudayaan, serta kualitas pahatan yang melekat padanya.

Prajnaparamita merupakan konsep penting dalam khazanah Buddha Mahayana yang merujuk pada kesempurnaan atau kebijaksanaan tertinggi. Dalam teks Sutra Prajnaparamita, kebijaksanaan tersebut tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan intelektual, melainkan sebagai kemampuan melihat kenyataan secara mendalam, termasuk memahami sunyata atau kekosongan. Pemahaman ini mengarahkan seseorang untuk melepaskan keterikatan, keakuan, serta kepentingan pribadi yang membatasi batin.

Makna filosofis itu tercermin dalam penggambaran arca Prajnaparamita. Sosok dewi duduk dalam posisi meditasi vajraparyanka, dengan kedua kaki bersilang secara kokoh sebagai lambang ketenangan dan kestabilan batin. Kedua tangannya membentuk dharmacakramudra, gestur yang berkaitan dengan pemutaran roda ajaran. Di sisi arca terdapat bunga teratai yang menyangga kitab Sutra Prajnaparamita. Unsur tersebut berfungsi sebagai penanda identitas, sekaligus menggambarkan kebijaksanaan yang tumbuh dari kejernihan dan mampu melampaui kondisi duniawi.

Keistimewaan arca juga tampak pada rincian mahkota dan perhiasannya yang dikerjakan secara cermat. Hiasan tersebut bukan sekadar pelengkap visual, tetapi menegaskan kedudukan Prajnaparamita sebagai figur luhur. Pada busananya terlihat motif jlamprang, pola geometris yang memperkaya permukaan kain dan memperlihatkan perhatian pemahat terhadap detail dekoratif. Perpaduan ekspresi meditatif, atribut simbolis, serta ornamen halus menunjukkan pencapaian seni keagamaan yang tinggi pada masa Hindu dan Buddha berkembang berdampingan di bawah pemerintahan Raja Kertanagara pada akhir abad ke-13.

Fadli Zon menilai kemampuan leluhur dalam mengolah batu merupakan bukti kecakapan teknis sekaligus kedalaman gagasan. Mereka tidak hanya memahat material keras menjadi bentuk yang proporsional, tetapi juga menerjemahkan ide abstrak tentang kebijaksanaan, ketenangan, dan pelepasan ke dalam sosok dewi yang memiliki keanggunan nyata. Setiap lekuk wajah, susunan perhiasan, dan lipatan busana memperlihatkan bagaimana nilai spiritual dapat diwujudkan melalui bahasa seni yang halus dan mudah dikenali lintas generasi.

Galeri Prajnaparamita berada di lantai ground Gedung B, Museum Nasional Indonesia, sehingga pengunjung dapat mengakses ruang pamer untuk melihat koleksi sekaligus mempelajari filosofi yang melatarbelakangi arca tersebut. Kehadiran galeri ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga membuka kesempatan bagi pengunjung untuk memahami nilai sejarah, seni, dan pemikiran yang terkandung dalam sosok Prajnaparamita, yang kerap disebut sebagai “Mona Lisa dari Jawa”.

Untuk mendukung pengalaman yang lebih inklusif, galeri menyediakan sejumlah fasilitas ramah disabilitas. Pengunjung dapat menggunakan buku taktil berhuruf Braille, objek timbul edukatif, serta miniatur arca yang dapat disentuh. Berbagai media tersebut membantu menyampaikan informasi mengenai bentuk, detail, dan konteks koleksi melalui pengalaman perabaan, sehingga materi pameran dapat diakses oleh lebih banyak kalangan dengan kebutuhan yang beragam.

Miniatur arca yang tersedia juga dibuat dengan warna-warna kontras. Pilihan visual ini ditujukan untuk membantu pengunjung dengan gangguan penglihatan atau low vision mengenali bentuk arca secara lebih mudah. Dengan demikian, pengunjung dapat memperoleh gambaran mengenai siluet dan karakter utama arca, baik melalui pengamatan maupun sentuhan, dalam suasana pembelajaran yang tetap menghormati koleksi museum.

Museum Nasional Indonesia membuka layanan kunjungan pada Selasa hingga Kamis pukul 08.00–16.00 WIB. Pada Jumat hingga Minggu, museum beroperasi lebih lama, yakni pukul 08.00–20.00 WIB. Pengunjung dapat menyesuaikan waktu kedatangan dengan jam operasional tersebut untuk menikmati koleksi dan fasilitas edukatif di Galeri Prajnaparamita secara lebih leluasa.

Baca juga: Menikmati Liburan Malam di Jakarta: Taman-Taman Buka 24 Jam yang Ramah Budget | Jakarta Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Minifootball Asia 2026 | Kenaikan Drastis Harga Cabai di Jakarta