Surabaya | Alena, bayi yang kisahnya ramai dibicarakan di media sosial, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Alena mengembuskan napas terakhir pada Minggu (11/10), ketika usianya baru mencapai 28 hari. Kabar tersebut menjadi perhatian publik karena sebelumnya kondisi Alena diberitakan membutuhkan penanganan medis secara intensif di rumah sakit rujukan tersebut.
Humas RSUD Dr Soetomo, Adin Niken, membenarkan kabar meninggalnya pasien tersebut. Ia menyampaikan bahwa Alena meninggal pada pukul 07.10 WIB. “Pasien meninggal pada Minggu pukul 07.10 WIB, usianya 28 hari,” ujar Adin Niken saat memberikan keterangan mengenai kondisi pasien.
Informasi mengenai Alena sebelumnya tersebar luas melalui unggahan di media sosial. Sejumlah pihak kemudian menyoroti berbagai hal yang disebut berkaitan dengan kondisi kesehatan bayi tersebut, termasuk dugaan pemberian telur mentah. Namun, keterangan mengenai dugaan itu belum dapat menjadi dasar untuk menyatakan adanya hubungan pasti dengan meninggalnya Alena.
Hingga informasi ini disampaikan, fakta yang terkonfirmasi adalah Alena sempat mendapat perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo dan dinyatakan meninggal pada Minggu pagi. Penyebab kematian maupun keterkaitannya dengan tindakan tertentu perlu merujuk pada keterangan resmi dari pihak berwenang dan tenaga medis yang menangani pasien. Publik juga diimbau tidak menyebarkan kesimpulan yang belum terverifikasi, terutama karena kasus tersebut menyangkut bayi dan informasi kesehatan yang bersifat sensitif.
Alena mulai menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10). Berdasarkan informasi yang tersedia, bayi tersebut sempat memerlukan penanganan intensif di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu unit khusus untuk merawat bayi dengan kondisi yang membutuhkan pemantauan dan dukungan medis secara berkelanjutan. Perawatan di ruang tersebut menunjukkan bahwa kondisi Alena memerlukan pengawasan lebih ketat dibandingkan perawatan biasa.
Kronologi sebelum Alena dibawa ke rumah sakit beredar terutama melalui unggahan dan percakapan di media sosial. Informasi itu menyebutkan bahwa Alena sempat mengalami demam. Dalam situasi tersebut, bayi itu diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayahnya. Telur mentah tersebut disebut diberikan dengan alasan untuk membantu menurunkan demam yang dialami Alena.
Setelah pemberian telur mentah yang masih berupa dugaan tersebut, kondisi Alena dilaporkan memburuk. Bayi itu kemudian disebut membutuhkan pertolongan medis dan dibawa untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Rangkaian informasi tersebut menjadi perhatian publik karena berkaitan dengan kondisi bayi serta dugaan pemberian makanan atau bahan tertentu ketika bayi sedang mengalami demam.
Meski demikian, informasi yang beredar di media sosial belum dapat dianggap sebagai penjelasan medis yang terverifikasi. Pihak RSUD Dr Soetomo tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kondisi Alena selama menjalani perawatan, termasuk apakah terdapat kaitan kondisi pasien dan dugaan pemberian telur mentah. Rumah sakit menyampaikan bahwa informasi mengenai pasien merupakan bagian dari privasi, sehingga tidak dapat dibuka kepada publik tanpa dasar dan kewenangan yang sesuai.
Karena itu, kronologi mengenai demam, pemberian telur mentah, memburuknya kondisi, hingga perawatan intensif perlu dipahami secara hati-hati. Kepastian mengenai penyebab memburuknya kondisi Alena hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan serta penjelasan tenaga medis yang berwenang, bukan berdasarkan kesimpulan dari informasi yang beredar.
Kabar meninggalnya Alena sebelumnya disampaikan melalui akun Threads @calistaarisha. Akun tersebut diketahui milik bibi Alena, yang juga merupakan saudara kandung dari ibu bayi itu. Sebelum menyampaikan kabar duka, pemilik akun secara berkala membagikan perkembangan kondisi Alena selama menjalani perawatan intensif. Dalam unggahan sebelumnya, ia meminta doa dari masyarakat karena Alena dilaporkan masih berada dalam kondisi kritis.
Pada Minggu (11/10), pemilik akun tersebut menyampaikan bahwa Alena telah meninggal dunia. Unggahan itu disertai ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendoakan dan memberikan dukungan selama bayi tersebut menjalani perawatan. Pesan tersebut menjadi informasi pertama dari keluarga mengenai kondisi terbaru Alena setelah sebelumnya kabar tentang perawatannya menarik perhatian warganet.
Dalam penyampaiannya, keluarga juga memberikan apresiasi kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta tim medis RSUD Dr Soetomo. Ucapan terima kasih itu ditujukan atas perhatian, bantuan, dan upaya yang diberikan selama Alena mendapatkan penanganan medis. Keluarga menyampaikan penghargaan terhadap pihak-pihak yang telah mendampingi proses perawatan di tengah situasi yang sulit.
Persoalan keluarga yang ramai dibicarakan di media sosial disebut telah ditindaklanjuti. Namun, pemilik akun meminta warganet menghormati kondisi keluarga dan tidak terus mendesak mereka untuk memberikan penjelasan. Permintaan tersebut secara khusus ditujukan kepada masyarakat agar memahami keadaan ibu Alena, yang disebut belum siap menjawab berbagai pertanyaan mengenai peristiwa yang terjadi. Keluarga berharap ruang privasi tetap diberikan selama mereka menghadapi masa berkabung dan memproses kehilangan tersebut.
Kasus Alena yang ramai dibahas turut mendapat perhatian dari tenaga medis di media sosial. Dokter pemilik akun Threads @dr.ferrykslg menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya bayi tersebut sekaligus mengingatkan masyarakat agar memberikan asupan yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir. Pesan ini penting karena informasi mengenai perawatan bayi sering beredar luas tanpa disertai penjelasan medis yang memadai.
Bayi berusia 24 hari masih termasuk neonatus, yaitu periode awal kehidupan sejak lahir hingga sekitar 28 hari. Pada tahap ini, tubuh bayi masih beradaptasi dan membutuhkan perhatian khusus, termasuk dalam pemenuhan nutrisi. Kebutuhan asupan bayi pada usia tersebut pada dasarnya dipenuhi melalui air susu ibu (ASI). Apabila ASI tidak dapat diberikan atau terdapat kondisi tertentu, susu formula yang sesuai dapat digunakan berdasarkan pertimbangan orang tua dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Pemberian makanan atau minuman lain, termasuk telur mentah, tidak seharusnya dilakukan tanpa indikasi medis. Sistem pencernaan bayi yang masih berkembang belum siap menerima berbagai jenis asupan di luar kebutuhan utamanya. Makanan pendamping ASI (MPASI) secara umum mulai diperkenalkan ketika bayi berusia sekitar enam bulan. Pemberian asupan sebelum usia tersebut perlu mempertimbangkan kondisi setiap bayi serta mengikuti anjuran dokter atau tenaga kesehatan.
Masyarakat juga diimbau tidak menerapkan informasi, kebiasaan turun-temurun, atau saran dari sumber yang belum jelas secara sembarangan, terutama untuk menangani keluhan kesehatan. Demam pada bayi baru lahir merupakan kondisi yang perlu segera diperiksakan kepada tenaga medis. Keluhan tersebut tidak sebaiknya ditangani sendiri menggunakan makanan, minuman, atau ramuan tertentu karena keterlambatan pemeriksaan dapat meningkatkan risiko bagi bayi.
Baca juga: Pemberian Masker Gratis di Depok Terkait Erupsi Anak Krakatau
