Pasokan Listrik Batam-Bintan Terbatas, Tanjungpinang Terapkan Penyalaan Bergilir

oleh -42 Dilihat
oleh
Pasokan Listrik Batam-Bintan Terbatas, Tanjungpinang Terapkan Penyalaan Bergilir

Batam | PLN memberlakukan penyalaan listrik secara bergilir di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang setelah pasokan yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan pelanggan. Kebijakan tersebut diterapkan menyusul pemadaman listrik total yang terjadi di Batam, Kepulauan Riau, dan berdampak langsung pada sistem kelistrikan di Pulau Bintan. Gangguan mulai terjadi sejak Senin pagi, 12 Oktober 2026, sementara hingga Selasa, 13 Oktober 2026, kondisi pasokan listrik masih belum kembali normal.

Batam menjadi pemasok utama listrik bagi Bintan melalui sistem interkoneksi antarpulau. Karena itu, gangguan pada pembangkit, jaringan, atau sistem penyaluran di Batam dapat segera memengaruhi ketersediaan energi di Bintan, termasuk wilayah Kota Tanjungpinang. Ketika pasokan dari Batam berkurang, kemampuan sistem untuk memenuhi beban listrik di wilayah tujuan turut menurun. Situasi inilah yang menyebabkan pelanggan di Bintan dan Tanjungpinang mengalami pemadaman bergilir, meskipun sumber gangguan awal berada di Batam.

Penyalaan bergilir dilakukan sebagai langkah pengaturan beban agar pasokan yang terbatas dapat dibagi ke sejumlah wilayah secara bertahap. Dengan skema tersebut, sebagian pelanggan dapat kembali memperoleh aliran listrik pada waktu tertentu, sedangkan wilayah lain harus menunggu jadwal penyalaan berikutnya. Pola ini juga dimaksudkan untuk menjaga kestabilan sistem dan mencegah gangguan yang lebih luas selama proses pemulihan berlangsung.

Gangguan tersebut memengaruhi aktivitas masyarakat, layanan usaha, serta operasional fasilitas yang bergantung pada listrik di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang. Warga diminta memperhatikan informasi resmi mengenai jadwal penyalaan dan pemadaman, sekaligus menyiapkan kebutuhan penting selama pasokan belum stabil. PLN masih melakukan penanganan terhadap gangguan dan penyeimbangan sistem, tetapi waktu pemulihan sepenuhnya bergantung pada kondisi jaringan serta kecukupan pasokan yang berhasil dipulihkan.

Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kota Tanjungpinang, Rully Agus Widanarto, menjelaskan bahwa pasokan listrik yang masih beroperasi di wilayah tersebut pada saat itu hanya berasal dari dua pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Kedua sumber energi itu adalah PLTD Suka Berenang dan PLTD yang berlokasi di Kelurahan Air Raja. Keduanya menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Tanjungpinang dan wilayah Pulau Bintan di tengah keterbatasan sistem kelistrikan Batam-Bintan.

Namun, kemampuan kedua pembangkit tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan listrik yang harus dilayani. Jika dioperasikan pada kapasitas maksimal, PLTD Suka Berenang dan PLTD Air Raja secara keseluruhan hanya mampu menghasilkan sekitar 32 megawatt. Sementara itu, konsumsi listrik di Pulau Bintan mencapai sekitar 80 hingga 100 megawatt setiap hari. Selisih kemampuan pembangkit dan kebutuhan pelanggan tersebut menunjukkan adanya kekurangan pasokan yang cukup besar.

Kondisi itu membuat PLN tidak dapat menyalurkan listrik secara penuh dan bersamaan kepada seluruh pelanggan. Daya yang tersedia harus diatur agar tetap dapat digunakan oleh masyarakat di berbagai wilayah, meskipun waktunya tidak berlangsung sepanjang hari. Pengaturan tersebut dilakukan melalui penyalaan bergilir, yakni dengan membagi waktu pelayanan listrik ke sejumlah kawasan sesuai kondisi sistem dan kemampuan pembangkit yang tersedia.

Penerapan pola bergilir menjadi langkah operasional untuk menjaga keseimbangan pasokan dan beban listrik. Tanpa pengaturan pemakaian, kebutuhan yang jauh melampaui kapasitas pembangkit berpotensi membebani sistem dan mengganggu keandalan jaringan secara lebih luas. Oleh karena itu, dua PLTD tersebut dioperasikan secara maksimal sesuai batas kemampuannya, sementara distribusi listrik kepada pelanggan disesuaikan dengan ketersediaan daya. Penjelasan Rully memperlihatkan bahwa pemadaman bergilir bukan disebabkan oleh berkurangnya kebutuhan listrik, melainkan karena sumber pembangkit yang aktif belum mampu memenuhi total permintaan di Pulau Bintan.

Di tengah keterbatasan pasokan listrik Batam-Bintan, PLN menerapkan mekanisme penyalaan secara bergantian untuk menjaga agar masyarakat tetap memperoleh aliran listrik. Pola yang digunakan adalah penyalaan setiap enam jam. Dengan mekanisme tersebut, pasokan listrik dialirkan secara bergiliran sesuai kemampuan daya yang tersedia, sementara PLN terus memaksimalkan pembangkit yang masih dapat beroperasi.

Penerapan pola bergantian dilakukan karena kebutuhan listrik di Pulau Bintan masih jauh lebih besar dibandingkan kapasitas pasokan yang tersedia. Rully menyampaikan, beban rata-rata pemakaian listrik di Pulau Bintan mencapai 80-100 megawatt per hari. Sementara itu, daya yang tersedia berada jauh di bawah kebutuhan tersebut. Kesenjangan beban pemakaian dan daya tersedia membuat penyaluran listrik tidak dapat dilakukan secara normal untuk seluruh masyarakat dalam waktu bersamaan.

Melalui penyalaan bergilir, PLN berupaya membagi pasokan secara terukur. Setiap periode penyalaan berlangsung selama enam jam sebelum pasokan dialihkan secara bergantian. Strategi ini menjadi langkah yang ditempuh untuk memanfaatkan kapasitas pembangkit secara optimal sekaligus mengelola beban sistem yang lebih tinggi daripada daya pembangkitan. Kemampuan pembangkit yang masih tersedia terus dioptimalkan agar pasokan dapat disalurkan seefektif mungkin.

Dalam pelaksanaan penyaluran tersebut, PLN tetap memprioritaskan objek vital. Rumah sakit termasuk fasilitas yang menjadi perhatian utama sehingga gangguan pasokan tidak menghambat pelayanan kesehatan. Prioritas ini mencerminkan upaya PLN menjaga keberlangsungan layanan yang bersifat penting di tengah kondisi kelistrikan yang terbatas. Dengan pengaturan penyalaan secara bergantian dan pemanfaatan pembangkit yang tersedia, PLN berusaha mempertahankan layanan listrik sekaligus mengurangi dampak keterbatasan daya bagi masyarakat.

Menurut keterangan PLN, gangguan pasokan listrik Batam-Bintan terjadi setelah sejumlah pembangkit di Batam keluar dari sistem. Kondisi tersebut membuat pembangkit yang masih beroperasi tidak mampu menanggung beban daya yang tinggi. Akibatnya, kestabilan sistem kelistrikan terganggu dan penyaluran energi ke sejumlah wilayah harus dilakukan secara terbatas. Beberapa unit pembangkit mulai berangsur pulih pada Senin malam, tetapi pasokan listrik menuju Bintan belum kembali normal karena frekuensi sistem masih belum stabil. Pemulihan bertahap belum dapat langsung menghapus dampak gangguan terhadap pelanggan.

Hingga Selasa pagi, kondisi listrik di Batam masih mengalami padam dan menyala. Situasi tersebut menunjukkan bahwa sistem belum sepenuhnya berada dalam keadaan stabil, sehingga pengoperasian jaringan harus disesuaikan dengan kemampuan pembangkit yang tersedia. Dampak pemadaman berkepanjangan juga dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Bintan, terutama Kijang dan Tanjung Uban. Warga serta pelaku usaha menghadapi gangguan terhadap aktivitas harian, layanan perdagangan, pekerjaan, dan kebutuhan rumah tangga. Penyalaan bergilir di Tanjungpinang menjadi salah satu langkah pengaturan beban agar jaringan tetap terlindungi selama proses pemulihan berlangsung.

PLN menjelaskan bahwa dua PLTD yang berada di Tanjungpinang belum mampu memasok kebutuhan seluruh wilayah Bintan. Selain kapasitasnya terbatas, jarak penyaluran yang relatif jauh dapat menyebabkan tegangan rendah atau tidak stabil apabila pasokan dipaksakan. Karena itu, penguatan sistem harus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keamanan jaringan dan kestabilan frekuensi. Rully menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang terdampak gangguan listrik sejak Senin pagi hingga Selasa. PLN terus berupaya memulihkan pembangkit dan menormalkan pasokan, sementara masyarakat diimbau memahami pengaturan penyalaan selama pekerjaan pemulihan masih berlangsung.

Baca juga: Krisis Pasokan Beras Premium di Ritel Modern | Inisiatif Pertamina Patra Niaga Dukung Pertumbuhan Mobil Listrik di Indonesia | GEMMAKO RI: Warga Kisaran Kembali Geram! Pemadaman Listrik Berulang Tanpa Peringatan, PLN Cabang Kisaran Tetap Bungkam