Jejak Banjir Besar Padang: Tragedi 1926 dan Bencana yang Kembali Terulang

oleh -627 Dilihat
oleh
Sejauh ini, belum ada laporan resmi terkait jumlah korban karena proses evakuasi masih terus berlangsung hingga malam ini

Jakarta | Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Padang pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan Minggu, 11 Oktober 2026, kembali menempatkan banjir sebagai perhatian utama di kota tersebut. Peristiwa terbaru ini sekaligus mengingatkan pada bencana besar yang pernah terjadi hampir seabad sebelumnya, ketika Padang dilanda banjir disertai longsor pada 8–9 April 1926. Keterkaitan keduanya terletak pada kenyataan bahwa wilayah yang sama kembali menghadapi ancaman hidrometeorologi, meskipun rincian, skala, serta dampak masing-masing peristiwa tidak dapat disamakan tanpa dukungan data yang memadai.

Catatan mengenai kejadian pada Oktober 2026 menjadi pintu masuk untuk melihat kembali sejarah kebencanaan Padang. Jauh sebelum istilah mitigasi bencana digunakan secara luas, masyarakat dan pemerintahan kolonial telah berhadapan dengan persoalan curah hujan, luapan air, kondisi sungai, serta gerakan tanah. Banjir pada 1926 bukan sekadar peristiwa alam yang tercatat dalam ingatan lokal, melainkan bagian dari rekaman sejarah kota yang memperlihatkan bagaimana lingkungan dan kehidupan masyarakat dapat terganggu oleh hujan ekstrem.

Tulisan ini berfokus pada rekonstruksi bencana Padang pada 1926 berdasarkan laporan-laporan yang terbit pada masa itu. Sumber-sumber sezaman tersebut menjadi dasar untuk menelusuri urutan kejadian, gambaran kerusakan, serta respons terhadap banjir dan longsor sebagaimana diberitakan ketika peristiwa berlangsung. Pendekatan ini penting agar tragedi lama dipahami melalui bukti historis, bukan semata-mata melalui perbandingan dengan bencana yang baru terjadi. Dengan demikian, banjir Padang pada Oktober 2026 berfungsi sebagai pengingat untuk membuka kembali catatan 8–9 April 1926, sementara perbedaan informasi dan konteks di kedua kejadian tetap dijaga secara cermat.

Pada 8–9 April 1926, Padang dilanda banjir besar setelah hujan deras mengguyur kota selama kurang lebih dua belas jam. Hujan mulai turun sekitar pukul 18.00 dan baru mereda pada pukul 06.00 keesokan harinya. Dalam rentang waktu tersebut, curah hujan tidak sekadar membasahi jalan dan halaman rumah, melainkan turun terus-menerus seperti aliran air bah yang tidak memberi kesempatan bagi permukaan tanah untuk menyerapnya.

Di tengah hujan yang semakin lebat, warga mendengar suara gemuruh dari arah langit dan pegunungan. Bunyi tersebut bersamaan dengan datangnya aliran air dari kawasan pegunungan yang meluap dan bergerak deras menuju dataran rendah. Arus kiriman itu kemudian memasuki wilayah kota melalui sungai serta saluran-saluran air yang terhubung dengan kawasan permukiman. Suara derasnya aliran menambah kepanikan warga yang berusaha memahami sumber ancaman dalam gelapnya malam.

Kanal banjir yang tersedia saat itu tidak mampu menampung volume air dari pegunungan. Ketika kapasitasnya terlampaui, air meluap ke luar jalur dan menerjang bangunan, jalan, serta kawasan permukiman di sepanjang alirannya. Air yang datang secara tiba-tiba membuat ruang-ruang kota berubah menjadi jalur arus deras. Bangunan di tepi kanal dan sungai menghadapi tekanan paling besar, sementara warga harus menghadapi kenaikan air dalam kondisi yang serba terbatas.

Keadaan menjadi semakin mencekam ketika aliran listrik padam. Padang berada dalam kegelapan, sehingga warga sulit melihat arah datangnya air, mengenali kondisi sekitar, atau menentukan jalur penyelamatan. Hujan malam, suara gemuruh dari pegunungan, dan luapan kanal membentuk rangkaian peristiwa yang mempercepat meluasnya banjir. Dalam beberapa jam, bencana tersebut tidak lagi menjadi persoalan genangan, tetapi berubah menjadi arus besar yang menghubungkan kawasan pegunungan dengan pusat permukiman Padang.

Setelah banjir besar menerjang Padang dan wilayah di sekitarnya, kerusakan segera terlihat di berbagai tempat. Arus yang deras merusak, menggeser, bahkan menghanyutkan sejumlah jembatan yang menjadi penghubung antarkawasan. Putusnya akses tersebut menyulitkan pergerakan penduduk serta menghambat upaya penyelamatan dan pengiriman bantuan. Di kawasan permukiman dan pusat perdagangan, rumah, toko, serta gudang terendam air. Barang-barang di dalam bangunan ikut rusak atau terbawa arus, sementara jalan mengalami kerusakan sehingga perjalanan darat menjadi semakin sulit.

Dampak bencana juga dirasakan pada jalur transportasi menuju dataran tinggi. Lalu lintas kereta api terganggu karena bagian jalurnya terputus akibat terjangan banjir dan kerusakan tanah. Terputusnya jalur ini tidak hanya menghambat perjalanan penumpang, tetapi juga mengganggu distribusi barang Padang dan daerah pedalaman. Dalam situasi tersebut, kerusakan prasarana memperpanjang dampak banjir, sebab masyarakat kehilangan beberapa jalur penting untuk berpindah maupun memperoleh kebutuhan sehari-hari.

Banjir disertai longsor juga menimbulkan korban jiwa. Dalam salah satu laporan, longsor menimbun sebuah rumah dan menewaskan seorang perempuan serta seorang anak. Peristiwa lain terjadi ketika seorang perempuan bersama anaknya terseret arus saat berusaha menyeberangi sebuah jembatan. Keduanya meninggal akibat tenggelam. Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bahwa bahaya tidak hanya berasal dari genangan, tetapi juga dari runtuhan tanah, arus sungai, dan jembatan yang tidak lagi aman dilalui.

Jumlah keseluruhan korban jiwa tidak diketahui berdasarkan laporan yang tersedia. Karena itu, catatan mengenai bencana tersebut tidak semestinya diubah menjadi angka pasti atau dilengkapi dengan identitas korban yang tidak disebutkan. Laporan hanya menyatakan bahwa pada pagi hari banyak mayat ditemukan bergeletakan di tanah, sebuah gambaran yang menunjukkan besarnya dampak kemanusiaan setelah air dan longsor melanda. Kesaksian semacam ini menjadi bagian penting dalam menelusuri skala tragedi, sekaligus mengingatkan bahwa dokumentasi pada masa itu mungkin belum mampu mencatat seluruh korban secara lengkap.

Setelah air banjir surut, penderitaan warga Padang belum berakhir. Lumpur tebal tertinggal di rumah, halaman, pasar, dan ruas-ruas jalan, sehingga masyarakat harus bekerja membersihkan lingkungan secara bertahap. Pekerjaan pemulihan itu dilakukan dalam keadaan serba terbatas, sementara sebagian penduduk juga kehilangan barang dagangan, peralatan kerja, serta persediaan kebutuhan sehari-hari. Di sejumlah tempat, arus deras mengikis badan jalan hingga bentuknya menyerupai dasar sungai. Kerusakan tersebut menghambat pergerakan warga dan menyulitkan hubungan antarkawasan yang sebelumnya menjadi jalur penting bagi kegiatan ekonomi.

Besarnya kerugian penduduk diperkirakan mencapai setengah juta gulden. Dalam sumber sejarah, nilai itu disebut setara dengan sekitar dua hingga tiga ton emas, sehingga menggambarkan skala kerusakan yang sangat besar bagi masyarakat pada masa itu. Perhitungan tersebut belum mencakup kerugian perusahaan ekspor Eropa dan perusahaan impor Tionghoa, yang masing-masing diperkirakan sekitar 25.000 gulden. Pemerintah kota sendiri menanggung kerusakan jalan dan berbagai fasilitas lain senilai 7.000 gulden, sedangkan jumlah keseluruhan kerugian pemerintah belum dapat diperkirakan.

Di tengah kebutuhan pemulihan yang mendesak, kabar bencana menyebar ke berbagai daerah di Hindia Belanda. Bantuan kemudian datang dalam bentuk dana dan dukungan lainnya. Tokoh-tokoh nasional turut menggalang bantuan untuk membantu pemulihan Padang, menunjukkan adanya perhatian luas terhadap kondisi penduduk yang terdampak. Aliran bantuan itu menjadi bagian penting dari upaya meringankan beban warga, memperbaiki sarana umum, dan memulihkan kembali kegiatan ekonomi setelah banjir besar.

Catatan tentang banjir 1926 tetap relevan ketika Padang kembali menghadapi bencana pada 2026. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini pernah berhadapan dengan banjir dan longsor berskala besar, sekaligus memperlihatkan luasnya dampak terhadap permukiman, pekerjaan, infrastruktur, dan perekonomian. Pengalaman masa lalu itu dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya mitigasi bencana, pemeliharaan lingkungan, kesiapan infrastruktur, serta koordinasi bantuan, tanpa mengabaikan perbedaan kondisi setiap peristiwa.

Baca juga: Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga | GEMMAKO RI: Warga Kisaran Kembali Geram! Pemadaman Listrik Berulang Tanpa Peringatan, PLN Cabang Kisaran Tetap Bungkam | Ancaman Bencana Geologi Jakarta: Guncangan dan Dampak Berantai